Pesantrenuniversal.com – Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU) resmi membuka Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Santri (LKMS) di Aula Utama PPMU, Cipadung, Cibiru, Kota Bandung, Minggu (4/1/2026). Kegiatan LKMS yang digelar kali ini mengusung tema “Menguatkan Kepemimpinan dan Manajemen Santri untuk Membangun Ketahanan Pesantren dalam Masyarakat Multikultural”.
Sebagai informasi, LKMS merupakan agenda wajib tahunan yang harus diikuti oleh seluruh santri PPMU. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembinaan kepemimpinan, manajemen, dan kedisiplinan santri dalam rangka memperkuat ketahanan pesantren di tengah masyarakat yang majemuk. Pada tahun ini, LKMS akan mengunjungi beberapa pesantren dan destinasi edukatif yang berada di Situbondo, Banyuwangi dan Bali.
Ketua Pelaksana, Nida, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada pemberian materi, tetapi juga pembentukan pengalaman nyata bagi santri. Ia menjelaskan bahwa melalui LKMS, peserta diharapkan mampu memperoleh bekal kepemimpinan dan manajerial yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal senada pun diucapkan oleh Ketua Dewan Santri, Wawa Setiawan, dalam sambutannya menyampung apa yang sudah ditegaskan oleh Nida. Ia menegaskan pentingnya LKMS bagi santri sebagai kaum terdidik. Sebagaimana aktivis pada umumnya, Ia mengutip pemikiran Tan Malaka yang menyebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah memperkokoh kemauan dan memperhalus perasaan. “maka dari itu saya berharap mahasantri bisa menerapkan apa yang di dapatkan dalam kegiatan ini,” tegasnya saat menutup pidato sambutannya.
Sementara itu, Dewan Pengasuh PPMU, Abi Tatang Astarudin, menekankan bahwa LKMS bukanlah kegiatan pilihan yang hanya diikuti oleh sebagian santri saja, melainkan wajib bagi semua elemen aktif PPMU. “LKMS ini bukan kegiatan komplementer yang tidak penting, apalagi hura-hura. Oleh karena itu, partisipasi seluruh santri merupakan sebuah keniscayaan,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Abi Tatang menjelaskan bahwa komitmen menjadi indikator utama dalam menilai kesungguhan seseorang. Ia menyebutkan bahwa komitmen dapat dilihat dari kecintaan seseorang terhadap negara, lembaga, atau komunitasnya, kecintaannya kepada sesama, serta kesadarannya dalam menyesali kesalahan masa lalu. Menurutnya, dalam perspektif human capital dan human development, keberhasilan pendidikan manusia diukur dari dua hal, yakni komitmen dan kreativitas.
Abi Tatang juga mengaitkan konsep tersebut dengan nilai-nilai keislaman, khususnya sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an tentang iman dan amal saleh. Ia menegaskan bahwa komitmen merupakan ciri utama seorang yang bertakwa. “Jika kita memiliki komitmen terhadap mahad, maka aturan, etika, dan kegiatan wajib harus diikuti. Sekali melanggar, itu menjadi ukuran terhadap komitmen seseorang,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dalam praktiknya terdapat kondisi tertentu yang dapat menjadi halangan bagi santri untuk mengikuti kegiatan. Dalam pandangan fikih, lanjut Abi Tatang, halangan terbagi menjadi dua, yakni halangan yang bersifat darurat dan tidak dapat ditawar, serta halangan yang masih dapat diusahakan. Ia menekankan bahwa santri yang masih memiliki kemampuan untuk mengikuti agenda tetapi memilih tidak hadir menunjukkan lemahnya komitmen.
Menutup arahannya, Abi Tatang mengajak seluruh santri untuk terus berusaha sekuat tenaga dalam mengikuti setiap agenda pesantren sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dan kepemimpinan santri. Melalui pelaksanaan LKMS 2026, PPMU berharap dapat melahirkan santri yang memiliki jiwa kepemimpinan, kemampuan manajemen yang matang, serta komitmen kuat dalam menjaga ketahanan pesantren di tengah realitas masyarakat multikultural.



